BADAI EKONOMI MENGANCAM: OECD telah merevisi Proyeksi Pertumbuhan Global Anjlok ke 3,1%!

Oleh: [Ezra Siorasi] Maret 2025

OECD telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2025 menjadi 3,1%, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,2%. Dalam laporan terbaru "OECD Economic Outlook Interim Report March 2025", pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melambat secara bertahap dari 3,2% pada 2024, menjadi 3,1% pada 2025, dan 3,0% pada 2026. Angka-angka ini lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yang mencapai 3,3% untuk tahun 2025 dan 2026.

Penurunan proyeksi ini disebabkan oleh meningkatnya hambatan perdagangan di beberapa negara G20, ketidakpastian geopolitik yang semakin tinggi, serta kebijakan yang membebani investasi dan pengeluaran rumah tangga. OECD khususnya memperingatkan bahwa kebijakan tarif yang diterapkan oleh Presiden AS Donald Trump akan memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan meningkatkan inflasi.

Bagi Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi diperkirakan turun dari 2,4% menjadi 2,2% tahun ini, dan semakin melemah menjadi 1,6% pada 2026. Meksiko diprediksi mengalami dampak lebih besar dengan kontraksi ekonomi sebesar 1,3% tahun ini dan 0,6% tahun depan, berbeda jauh dari proyeksi sebelumnya yang masih menunjukkan pertumbuhan positif. Kanada juga diperkirakan mengalami perlambatan signifikan dengan pertumbuhan ekonomi hanya 0,7% pada 2025 dan 2026, jauh di bawah proyeksi awal sebesar 2%.

Untuk Indonesia, OECD menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025 menjadi 4,9%, turun 0,3?ri proyeksi sebelumnya sebesar 5,2%. OECD juga memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan pada level saat ini untuk menjaga inflasi tetap rendah dan mencegah arus keluar modal akibat kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat.

Analisis Ekonomi Mikro dan Makro

Perspektif Ekonomi Mikro

Dari sudut pandang ekonomi mikro, kebijakan tarif yang diterapkan oleh Amerika Serikat akan berdampak langsung pada struktur biaya perusahaan dan perilaku konsumen. Peningkatan tarif impor akan mengakibatkan:

  1. Kenaikan harga barang impor: Konsumen Amerika Serikat akan mengalami tekanan inflasi pada produk-produk impor, terutama dari negara-negara yang menjadi target kebijakan proteksionisme.
  2. Distorsi alokasi sumber daya: Tarif yang lebih tinggi mendorong realokasi sumber daya ke industri domestik yang dilindungi, namun ini sering kali mengakibatkan inefisiensi ekonomi jika industri domestik tidak cukup kompetitif secara global.
  3. Dampak pada rantai pasok: Banyak perusahaan multinasional yang telah membangun rantai pasok global akan menghadapi peningkatan biaya operasional, yang pada gilirannya dapat mendorong restrukturisasi rantai pasok global.
  4. Respons pasar tenaga kerja: Meskipun kebijakan proteksionis bertujuan melindungi pekerjaan domestik, penelitian empiris menunjukkan bahwa dampaknya sering kali kompleks dan tidak selalu positif dalam jangka panjang.

Perspektif Ekonomi Makro

Dari perspektif makroekonomi, perlambatan pertumbuhan global yang diproyeksikan akan memiliki implikasi luas:

  1. Tekanan pada perdagangan global: Peningkatan hambatan perdagangan akan mengurangi volume perdagangan internasional, yang merupakan pendorong utama pertumbuhan ekonomi global.
  2. Risiko stagflasi: Kombinasi pertumbuhan yang lebih lambat dengan tekanan inflasi akibat tarif dan gangguan rantai pasok dapat menciptakan risiko stagflasi, terutama di negara-negara maju.
  3. Tantangan kebijakan moneter: Bank sentral di seluruh dunia, termasuk Bank Indonesia, akan menghadapi dilema kebijakan dalam menyeimbangkan pertumbuhan dan inflasi.
  4. Implikasi fiskal: Pemerintah mungkin perlu mempertimbangkan stimulus fiskal untuk mengimbangi perlambatan, namun ruang fiskal di banyak negara sudah terbatas pasca pandemi.
  5. Ketidakmerataan dampak: Perlambatan ekonomi global akan berdampak tidak merata antar negara, dengan ekonomi yang sangat bergantung pada perdagangan (seperti Meksiko) mengalami dampak lebih signifikan.

Kritik dari Sisi Pengembangan dan Manajemen Bisnis Internasional

Tren proteksionisme yang meningkat memaksa bisnis multinasional untuk mengkaji ulang strategi operasi global mereka:

  1. Rekonfigurasi rantai pasok: Perusahaan multinasional akan semakin menerapkan strategi "China plus one" atau bahkan "regionalisasi" rantai pasok untuk mengurangi risiko geopolitik dan dampak tarif.
  2. Tantangan penetrasi pasar: Masuk dan bertahan di pasar internasional akan menjadi lebih kompleks dengan meningkatnya hambatan perdagangan, memaksa perusahaan untuk lebih mengandalkan investasi langsung dibandingkan ekspor.
  3. Peningkatan biaya kepatuhan: Navigasi peraturan perdagangan yang semakin kompleks akan meningkatkan biaya kepatuhan, terutama bagi UKM yang beroperasi secara internasional.
  4. Strategi lokalisasi: Untuk menghindari tarif, lebih banyak perusahaan akan mengadopsi strategi "build where you sell" (bangun di tempat Anda menjual) yang dapat mengubah pola investasi global.
  5. Ketahanan vs efisiensi: Trade-off antara efisiensi dan ketahanan dalam manajemen rantai pasok akan semakin menonjol, mendorong perusahaan untuk memprioritaskan ketahanan meski dengan biaya yang lebih tinggi.

Fluktuasi Sektor Investasi

Indonesia

  • Positif: Indonesia, dengan pasar domestik yang besar, relatif terlindungi dari guncangan eksternal dan dapat menarik investasi manufaktur yang mencari alternatif dari China.
  • Negatif: Penurunan permintaan global akan berdampak pada ekspor komoditas Indonesia dan dapat memperlambat arus masuk investasi asing langsung (FDI).
  • Risiko: Kebijakan suku bunga tinggi AS dapat menyebabkan volatilitas mata uang rupiah dan arus keluar modal.

ASEAN

  • Positif: Posisi strategis sebagai hub manufaktur alternatif dalam strategi "China plus one" perusahaan multinasional.
  • Negatif: Sebagian besar ekonomi ASEAN sangat bergantung pada perdagangan, sehingga hambatan perdagangan global akan berdampak signifikan.
  • Peluang: Penguatan integrasi ekonomi intra-ASEAN dapat memberikan ketahanan regional yang lebih besar terhadap guncangan eksternal.

Amerika Serikat

  • Positif: Kebijakan proteksionis dapat mendorong investasi domestik di sektor-sektor strategis.
  • Negatif: Potensi dampak retaliasi dari mitra dagang dan distorsi pasar modal global.
  • Dilema: Kebijakan moneter ketat untuk melawan inflasi berpotensi memperburuk perlambatan ekonomi.

China

  • Tantangan: Peningkatan tarif Amerika Serikat akan memaksa reorientasi strategi ekonomi, dengan penekanan lebih besar pada konsumsi domestik dan ekspor ke pasar selain AS.
  • Adaptasi: Akselerasi inisiatif "dual circulation" yang menekankan kemandirian teknologi dan pasar domestik.
  • Peluang: Memperdalam hubungan ekonomi dengan negara-negara Belt and Road Initiative untuk mengimbangi hambatan perdagangan dari AS.

Meksiko

  • Tantangan besar: Sebagai ekonomi yang sangat terintegrasi dengan AS melalui USMCA, kebijakan tarif baru akan sangat berdampak pada manufaktur dan investasi.
  • Reorientasi: Potensi diversifikasi mitra dagang untuk mengurangi ketergantungan pada AS.
  • Risiko struktural: Kontraksi ekonomi yang diproyeksikan dapat memicu ketidakstabilan sosial dan politik yang lebih luas.

Proyeksi 5 Tahun Kedepan: Sektor Bisnis yang Akan Berkembang

  1. Manufaktur Teknologi Tinggi Lokal: Dengan fragmentasi rantai pasok global, manufaktur lokal untuk produk teknologi tinggi akan tumbuh di berbagai kawasan, termasuk Indonesia dan ASEAN.
  2. Ekonomi Hijau dan Energi Terbarukan: Terlepas dari perlambatan global, transisi energi akan terus berlanjut dengan investasi besar di bidang energi terbarukan, penyimpanan energi, dan teknologi hijau.
  3. Teknologi Keuangan dan Inklusi Digital: Digitalisasi layanan keuangan akan terus berkembang pesat, terutama di pasar berkembang seperti Indonesia, mendorong inklusi keuangan dan efisiensi.
  4. Healthcare dan Bioteknologi: Pandemi telah mempercepat investasi dalam infrastruktur kesehatan dan bioteknologi, tren yang akan berlanjut dengan fokus pada kemandirian dalam pasokan medis kritikal.
  5. Agritech dan Ketahanan Pangan: Ketahanan pangan akan menjadi prioritas strategis, mendorong investasi dalam pertanian presisi, bioteknologi pertanian, dan sistem pangan yang lebih lokal.
  6. Reshoring dan Nearshoring Manufacturing: Relokasi fasilitas produksi lebih dekat ke pasar utama akan menciptakan peluang bisnis baru di kawasan yang dekat dengan pusat konsumsi besar.
  7. Ekonomi Digital dan E-commerce: Ekonomi digital akan terus menjadi pendorong pertumbuhan, dengan adaptasi model bisnis untuk melayani kebutuhan lokal dan regional.
  8. Cyber Security dan Data Governance: Dengan semakin banyak aktivitas ekonomi yang digital, keamanan siber dan tata kelola data akan menjadi sektor pertumbuhan utama.

Langkah Kebijakan Efektif untuk Pemerintah Indonesia

 

 

  1. Akselerasi Implementasi Omnibus Law: Mempercepat perampingan birokrasi dan perizinan untuk meningkatkan daya saing investasi, dengan penekanan pada kepastian hukum dan konsistensi implementasi.
  2. Hilirisasi Sumber Daya Alam: Memperdalam kebijakan hilirisasi dengan insentif yang lebih terarah untuk pengolahan dalam negeri dan pengembangan kapasitas manufaktur berbasis sumber daya.
  3. Penguatan Infrastruktur Digital: Mempercepat pembangunan infrastruktur digital untuk mendukung ekonomi digital yang inklusif, termasuk konektivitas broadband yang merata dan peningkatan literasi digital.
  4. Reformasi Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan: Menyelaraskan sistem pendidikan dengan kebutuhan industri masa depan, dengan penekanan pada keterampilan teknis dan adaptabilitas tenaga kerja.
  5. Diversifikasi Mitra Dagang: Memperluas akses pasar ekspor melalui perjanjian perdagangan bilateral dan regional, mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional yang terdampak proteksionisme.
  6. Insentif Fiskal Terarah: Mereformasi sistem insentif fiskal untuk lebih mendukung sektor-sektor strategis dan inovasi, termasuk R&D dalam teknologi hijau dan manufaktur canggih.
  7. Penguatan Stabilitas Makroekonomi: Mempertahankan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang kuat untuk menjaga stabilitas, termasuk pengelolaan utang yang prudent dan pengembangan pasar modal dalam negeri.
  8. Diplomasi Ekonomi Proaktif: Mengambil peran lebih aktif dalam forum multilateral untuk mempromosikan perdagangan terbuka dan mengurangi hambatan perdagangan global.
  9. Kebijakan Industrialisasi Hijau: Mengintegrasikan standar keberlanjutan ke dalam strategi industrialisasi untuk memastikan akses ke pasar global yang semakin menekankan kriteria ESG (Environmental, Social, Governance).
  10. Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Pariwisata: Memperkuat sektor-sektor yang relatif tahan terhadap guncangan eksternal dan dapat memanfaatkan keunikan budaya dan sumber daya Indonesia.
loader